Categories
Uncategorized

Peringati Hari Lingkungan Sedunia, 50 Ekor Anak Penyu Dilepas ke Laut

KOTOTANGAH, METRO
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 50 ekor anak penyu dilepas untuk mengantisipasi kepunahan. Pelepasan penyu dilakukan di kawasan Pasir Jambak, Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Kototangah, Sabtu (6/6).

Pantauan POSMETRO, terlihat penyu yang merupakan habitat dilindung itu dilepas oleh sejumlah relawan dan pemerhati penyu bersama wisatawan yang sedang berkunjung ke lokasi. Beberapa menit dilepaskan, penyu tampak berlarian menuju kearah laut dan hilang terbawa arus ombak pantai.

Relawan dan pemerhati penyu, Pati Hari Yose mengatakan, penyu-penyu dilepas supaya tidak terjadi kepunahan. Sebab penyu merupakan salah satu habitat yang dilindungi yang hampir punah.

“Empat jenis penyu yang kita lepas hari ini, yakni Penyu Lekang, Penyu Hijau, Penyu Belimbing dan penyu jenis Sisik. Ada sebanyak 50 ekor yang kita lepaskan. Kemudian total seluruh, sebanyak 50 ribu lebih penyu yang telah kita lepas sejak tahun 2014,” sebutnya.

Ia menyayangkan masih banyak ditemukan perburuan penyu yang dijadikan sumber perekonomian masyarakat lokal.

“Dalam hal ini, masih terkendala dengan pembiayaan untuk biaya operasionalnya dan biaya kompensasi pemeliharaan telur-telur penyu. Nah, ini tentu akan menjadi tangan bagi kita dalam pelestarian penyu yang hampir punah,” sambungnya.

Yose menambahkan, telur-telur tersebut sebagian diperoleh dari hasil penelusuran sendiri. Sebagian lagi didapat dari nelayan yang sengaja maupun tidak sengaja menangkap telur penyu tersebut.

“Kemudian kita edukasi untuk tidak menjualnya dan diberi kompensasi sebagai ganti rugi balitbang telah menangkap telur penyu dan ini bukan berarti transaksi jual beli. Karena ini semata-mata kami lakukan untuk melindungi penyu dari kepunahan,” pungkasnya.

Sumber : https://posmetropadang.co.id/peringati-hari-lingkungan-sedunia-50-ekor-anak-penyu-dilepas-ke-laut/

Categories
Uncategorized

Konservasi Penyelamatan Penyu oleh masyarakat Pasir Jambak

Konservasi Penyu berlokasi di pasir jambak, Padang, Sumatera Barat pada hari Rabu (6/3/19) Keprihatinan tentang pati hariyose untuk kepunahan penyu, ia ditentukan dengan modal dan bisnisnya sendiri yang terletak di pasir jambak, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (2/03) untuk membangun konservasi meskipun ia tidak mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan ini.Bisnis yang ia lakukan menghadapi banyak masalah, ia berusaha memberikan yang terbaik dalam melakukan kegiatan penyelamatan penyu seperti kehadiran hama yang menyerang anak-anak kura-kura dan biaya operasional yang masih menggunakan uang pribadinya.

Pati hariyose (35) adalah seorang pemuda berpasir di pantai pasir dan seorang anak nelayan membangun sebuah bangunan sederhana untuk konservasi penyu dimana terdapat proses penangkaran untuk penyu mulai dari telur hingga menetas dan kemudian dilepas ke pantai tempat breed tawanan ini diubah menjadi turis atraksi.

Dengan adanya konservasi penyu sebagai daya tarik baru, pengunjung diharapkan dapat berpartisipasi. untuk meningkatkan operasi dengan mengumpulkan sumbangan dari pengunjung membeli telur penyu dari nelayan dengan harga satu barang, Rp. 2.000 hingga Rp. 4.000 untuk memelihara telur penyu.

Penyu adalah hewan langka yang membutuhkan inisiatif semua pihak untuk membantu dan menyelamatkan nyawa penyu sehingga penyu dapat berkembang biak dengan baik dan semakin jauh dari jurang kepunahan untuk kebutuhan konservasi penyu

untuk menumbuhkan antusiasme dan pengorbanan untuk tetap peduli dan memperhatikan penyu 23 Mei sebagai hari penyu dunia.

Untuk memastikan keberlanjutan populasi kura-kura sebagai salah satu hewan langka, dibutuhkan pendidikan untuk menyatukan populasi kura-kura dengan semua lampu komunitas dalam bentuk yang mudah dipahami oleh masyarakat, dan masyarakat lebih peduli tentang populasi kura-kura. agar tidak berburu atau membunuh makhluk hidup, terutama kura-kura.

Dengan keterbatasan penuh, lokasi penangkaran penyu ini telah beroperasi dengan baik dalam lima tahun terakhir.

Pemerintah Republik Indonesia telah melindungi kura-kura dengan mengeluarkan undang-undang no.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang penggunaan tumbuhan dan hewan, dilarang menangkap, melukai dan bunuh. Siapa pun yang dengan sengaja melakukan ini akan dikenai saksi dengan hukuman penjara 5 tahun dan didenda maksimal Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Sumber :https://www.padangtime.com/konservasi-penyelamatan-penyu-oleh-masyarakat-pasir-jambak/

Categories
Uncategorized

Pati Hariyose, Jual Vespa demi Menangkar Penyu

BERBAGAI tantangan tak meruntuhkan semangat Pati Hariyose (35) untuk menjaga lingkungan. Sejak empat tahun lalu, ia berjibaku menyambung ”napas” penangkaran penyu di kawasan Pasir Jambak, Kota Padang, Sumatera Barat. Demi misi itu, ia rela menjual vespa kesayangannya. Pria yang biasa dipanggil Yose itu baru saja pulang dari kegiatan memonitor penyu di salah satu pulau kecil saat ditemui di kawasan Pasir Jambak, Selasa (21/3/2017). Meski lelah, ia senang berbagi cerita tentang penangkaran penyu. Pasir Jambak merupakan salah satu obyek wisata di Kota Padang. Pasir di daerah itu berwarna putih kecoklatan. Pohon cemara tumbuh subur dan rindang. Saat petang, panorama matahari terbenam di sana amat menawan. Kawasan yang menjadi salah satu areal bertelur penyu lokal dan penyu pengembara ini terletak di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, sekitar 24 kilometer arah utara pusat Kota Padang.

Penangkaran penyu milik Yose berada tak jauh dari rumahnya. Di sana terdapat bangunan kecil beratap seng. Di dalamnya diletakkan kotak-kotak kardus busa berisi pasir untuk menetaskan telur. Ada juga dua buah bak plastik untuk menampung anak penyu (tukik). ”Prasarana ini bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang pada akhir 2016. Sebelumnya, saya gunakan peralatan yang lebih sederhana,” katanya. Yose mulai menangkar penyu jenis Lekang dan Sisik pada Agustus 2013. Saat itu sedang masa puncak penyu bertelur. Setiap malam ada tiga sampai empat sarangan atau 400-500 butir telur di sana. Hal itu mengundang para pemburu telur penyu untuk datang ke sana. Sering kali cara yang mereka lakukan dianggap brutal oleh Yose. Suatu hari, misalnya, ia melihat seekor induk penyu dibantai warga. ”Mereka membawa penyu itu ke darat, membedah, mengambil telur, lalu membuangnya ke laut. Saya menemukan penyu itu mati di pantai dan menguburnya. Saya miris serta kasihan melihatnya,” ujarnya.

Peristiwa itu membuat Yose tergerak untuk memulai penangkaran penyu. Selain untuk melestarikan keberadaan penyu, ia ingin aktivitas penangkaran penyu bisa menarik wisatawan datang ke Pasir Jambak. Yose ingin melihat Pasir Jambak berkembang sebagai destinasi wisata berbasis konservasi penyu. ”Mimpi besar saya adalah bagaimana masyarakat suatu hari nanti tidak hanya mencari telur penyu, tapi juga ikut menangkarnya. Artinya, apa yang saya lakukan tidak untuk saat ini saja, tetapi harapannya bisa membangun ekonomi jangka panjang bagi warga di sini,” ujarnya. Otodidak Yose belajar menangkar penyu secara otodidak. ”Sejak awal, tak banyak yang saya ketahui tentang penyu. Kebetulan saja saya orang pantai dan sering mengamati bagaimana telur penyu dipendam induknya di pantai hingga menetas,” tuturnya. Berdasarkan pengamatan singkat itu, Yose mulai mengumpulkan sendiri telur penyu dan menangkarnya. Telur itu lalu ia timbun di pasir. Selanjutnya, ia menunggu telur-telur itu menetas. ”Saat itu saya tidak berani menetaskan telur banyak-banyak. Paling satu sarangan (sekitar 200 butir) karena belum begitu paham. Kalau sekarang, bisa sampai tujuh sarangan,” ungkap Yose. Yose lalu mencari referensi lewat internet. ”Di internet, selain mempelajari lama telur menetas, juga mendapat informasi pakan yang cocok untuk tukik. Kebetulan, setelah menetas dan sebelum dilepas ke laut, tukik-tukiknya ditampung seminggu di kolam yang saya buat dari terpal,” katanya. Selain mengumpulkan telur sendiri, Yose juga mencoba membeli dari pencari telur lainnya. Sayangnya, upaya itu tidak mudah. ”Mereka awalnya menolak karena takut dijebak kemudian dilaporkan ke polisi. Mereka lebih memilih menjualnya kepada orang lain di luar Pasir Jambak, padahal harga belinya sama,” ucapnya. Yose pantang mundur. Ia terus membujuk para pencari telur agar menjual kepadanya. ”Saya bilang kepada mereka, ’Kalau bapak-bapak ditangkap polisi, saya bantu. Kalau telur dijual kepada saya, kan, bukan untuk konsumsi, tapi konservasi. Artinya, bapak-bapak sudah membantu saya’. Selain itu, saya juga menyampaikan surat edaran Wali Kota Padang tentang larangan menjual telur penyu,” katanya. Para pencari telur akhirnya mau menjual telur penyu kepada Yose. Per butir telur, Yose membelinya Rp 3.000–Rp 4.000. Uang untuk membeli telur diambil Yose dari tabungannya saat mengurus rumah makan keluarga di Solo, Jawa Tengah. ”Sebelumnya, saya memang tinggal di Solo. Tapi, setelah bapak meninggal, saya pindah ke Padang untuk menemani ibu,” ujarnya menjelaskan. Penyelamat penyu Usaha Yose untuk menangkar penyu memang tidak selalu mulus. Alih-alih dipuji, ia justru sering menerima cibiran dan ejekan. ”Keluarga saya bahkan pernah meminta saya berhenti saja karena menilai penangkaran penyu hanya pekerjaan sia-sia,” katanya. Yose juga harus memeras otak untuk mencari biaya agar penangkaran penyu terus berjalan. Sekali membeli telur yang bisa mencapai ratusan butir, Yose mengeluarkan sekitar Rp 1,2 juta. Jika ditambah biaya operasional termasuk pakan untuk tukik dan lainnya, totalnya mencapai Rp 2 juta. Selama empat tahun ini, Yose sedikitnya sudah merogoh kocek sendiri hingga lebih dari Rp 20 juta. Memang ada bantuan dari beberapa lembaga. Dinas Kelautan dan Perikanan Padang, misalnya, memberikan dana untuk kompensasi biaya adopsi tukik. Namun, jumlahnya masih jauh dari biaya operasional yang dikeluarkan Yose. ”Saya juga tidak memungut biaya kalau ada wisatawan yang mau melepas tukik meski ada yang memberikan sumbangan seikhlasnya. Biasanya saya hanya meminta mereka menceritakan penangkaran ini ke kerabat atau membagikan foto-fotonya lewat media sosial,” katanya. Karena pemasukan nyaris tak ada, pada 2016 Yose kesulitan keuangan. Ia terpaksa menjual tiga dari empat vespa kesayangannya untuk membiayai pembelian telur penyu. Dalam waktu dekat, ia berencana menjual mobil tuanya untuk membeli perahu motor. ”Saya berharap ada bantuan boat dari instansi terkait untuk memonitor penyu karena selama ini saya harus menyewa sendiri. Tapi, kalau pemerintah tidak bisa bantu, saya jual mobil,” katanya. Selain menjual barang-barang pribadi, Yose mencoba mengumpulkan dana dari galeri sederhana bernama Chelonia Mydas. Galeri itu menjual oleh-oleh berupa aksesori. Meski kesulitan dana, Yose mengatakan tidak akan pernah berhenti. Buat dia, menyelamatkan penyu sama artinya menyelamatkan ekosistem laut. ” Penyu menjaga mata rantai makanan dan ekosistem laut. Kalau penyu hilang, satwa lain seperti ubur-ubur akan mendominasi. Kalau itu terjadi, terumbu karang bisa habis dan akhirnya ekosistem laut terganggu,” kata Yose. Hingga saat ini, Yose sudah menetaskan dan melepas lebih dari 7.000 tukik. Yose merasa jumlah itu belum banyak. Namun, ia merasa kehadiran penangkaran penyu mulai memberi manfaat. Para wisatawan mulai tertarik pada penangkaran penyu. Warga pun bisa membuka warung untuk melayani kebutuhan wisatawan. ”Kalau dihitung-hitung secara komersial, saya sebenarnya tidak dapat apa-apa. Tapi tak jadi soal. Saya akan lanjut terus. Ini bentuk kontribusi saya (membalas) apa yang sudah diberikan alam kepada saya,” ujarnya. (ISMAIL ZAKARIA)

Sumber berita:

https://travel.kompas.com/read/2017/03/30/090800227/pati.hariyose.jual.vespa.demi.menangkar.penyu?page=all